Cerita ini bukan tentang panggung besar, bukan tentang lampu sorot, dan belum tentang festival. Cerita ini dimulai dari hal-hal kecil: obrolan di warung, pertemuan di rumah, dan rasa prihatin terhadap desa tempat kami lahir dan tumbuh.
Tahun 2024, saya dan seorang teman yang masih memiliki hubungan saudara—sebut saja Karno—sering menghabiskan waktu bersama. Kadang di rumahnya, kadang di warung miliknya. Tidak ada agenda khusus. Kami hanya berbincang, bercanda, dan sesekali terdiam dalam obrolan yang lebih serius.
Topik kami hampir selalu sama: desa kami. Desa Serangan. Tentang perubahan yang terasa cepat, tentang ruang-ruang yang hilang, dan tentang perasaan bahwa ada sesuatu yang seharusnya bisa kami lakukan, meskipun kami belum tahu bentuknya apa.
Obrolan-obrolan itu tidak pernah kami niatkan menjadi rencana besar. Ia lahir alami, dari kegelisahan yang sama-sama kami rasakan. Kami bukan tokoh penting, bukan pejabat desa, dan bukan orang dengan modal besar. Kami hanya dua orang yang kebetulan sering bertemu, dan sama-sama tidak ingin desa kami berjalan tanpa arah.
Pertemuan di Nukari
Suatu hari, kami berkunjung ke sebuah tempat daur ulang sampah plastik bernama Nukari. Tempat itu sederhana, jauh dari kesan formal, tapi hidup. Di sana kami melihat orang-orang bekerja, memilah, mengolah, dan memberi nilai baru pada sesuatu yang sering dianggap tidak berguna.
Di Nukari, kami berkenalan dengan beberapa orang yang bekerja di sana. Di antaranya Pak Heno dan Pak Tot. Tidak ada pembicaraan resmi. Hanya obrolan ringan, seperti pertemuan-pertemuan lain yang sering terjadi di desa.
Namun dari obrolan itulah, sesuatu mulai bergerak. Karno sempat berbincang lebih lama dengan Pak Heno. Tentang keinginan membuat kegiatan, tentang ruang yang bisa dipakai, dan tentang kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan secara serius.
Dari percakapan panjang itu, muncul sebuah kesepakatan sederhana. Kami diberi izin untuk menggunakan sebuah tempat milik perusahaan—sebuah bangunan yang dulunya adalah rumah mantan bendesa adat, yang juga merupakan wak kami sendiri.
Tidak ada kontrak. Tidak ada seremonial. Hanya kepercayaan dan izin lisan.
Oemah Seni dan Ruang yang Pernah Terlupakan
Ada satu hal penting yang perlu diceritakan dengan jujur. Oemah Seni bukanlah ruang yang kami ciptakan dari nol. Nama itu sudah ada jauh sebelum kami sering datang ke tempat ini. Sejak awal, tempat ini memang pernah digunakan sebagai ruang latihan menari bagi anak-anak desa, yang sebagian besar masih berusia sekolah dasar.
Namun ketika kami mulai sering berada di sana, kondisinya jauh dari kata layak. Ruang itu tidak terurus. Sampah berserakan di beberapa sudut, rumput liar tumbuh tinggi, dan suasananya lebih menyerupai gudang daripada ruang seni.
Di salah satu sisi berdiri bekas garasi terbuka dari rangka besi. Atapnya robek, sebagian rangkanya berkarat, dan lantai di bawahnya masih berupa tanah. Ketika hujan turun, area itu menjadi becek dan sulit digunakan.
Kami tidak datang dengan niat mengambil alih atau mengubah segalanya. Awalnya kami hanya menggunakan ruang yang ada, apa adanya. Namun semakin sering kami berkegiatan di sana, semakin terasa bahwa ruang ini terlalu berharga untuk dibiarkan dalam kondisi seperti itu.
Perlahan, perubahan kecil mulai terjadi. Lantai tanah di bawah garasi itu kemudian disemen agar lebih aman dan layak digunakan. Beberapa pohon juga ditanam di sekitar area tersebut. Bibitnya bukan dari program resmi atau anggaran besar, melainkan hasil patungan sederhana antara Pak Heno dan Karno.
Perubahan itu tidak langsung mengubah wajah tempat ini secara drastis. Namun cukup untuk memberi rasa berbeda. Ruang yang sebelumnya terasa terbengkalai mulai memiliki struktur dan arah.
Buku-buku pertama yang hadir di tempat ini datang dari Karno. Ia membawa sebuah kardus berisi buku-buku peninggalan almarhum bendesa adat. Kardus itu kami letakkan begitu saja di sudut ruangan. Tidak ada rak. Tidak ada penataan. Namun nilai yang dibawanya jauh lebih besar dari sekadar isi halaman.
Ketika jumlah buku bertambah dan anak-anak mulai sering membuka dan membacanya, kami merasa perlu menata ruang ini dengan lebih baik. Rak buku yang kami buat tidak berasal dari bahan baru. Kami memanfaatkan limbah kayu yang ada di sekitar tempat itu—potongan batang kayu tak terpakai, sisa-sisa yang sebelumnya hanya dianggap sampah.
Rak itu sederhana, tidak rapi, dan jauh dari kesan profesional. Namun cukup kuat untuk menyimpan buku-buku yang ada. Ia menjadi bagian dari ruang, sama seperti niat awal kami yang juga sederhana.
Buku-buku lain kemudian datang dari seorang guru muda yang mulai sering berkunjung. Ia menyumbangkan beberapa buku tanpa banyak cerita. Kami menerimanya dengan rasa syukur, sebagai tambahan kecil yang berarti.
Sore hari, ruang ini kembali dipakai untuk kegiatan yang berbeda. Kami bermain bulu tangkis, anak-anak berlarian, dan sesekali musik terdengar dari seorang teman yang memainkan gitar. Tidak ada agenda. Semua mengalir apa adanya.
Anak-anak desa kembali menggunakan Oemah Seni untuk berlatih menari. Meskipun ruangnya masih sederhana, setidaknya sudah lebih bersih, lebih aman, dan lebih nyaman dari sebelumnya.
Suatu hari, saya, Karno, dan seorang teman memutuskan untuk membersihkan tempat ini lebih serius. Kami menyapu, memindahkan barang-barang tak terpakai, menata ulang sudut ruangan, dan memastikan lantainya cukup layak digunakan.
Kami tidak pernah menyebutnya renovasi. Kami hanya merawat. Tidak ada anggaran khusus, tidak ada target waktu. Kami melakukannya karena merasa ruang ini bagian dari desa kami, dan sudah seharusnya dijaga.
Percakapan yang Mulai Berubah Arah
Di tengah rutinitas yang berjalan apa adanya itu, kami mulai lebih sering bertemu dengan guru muda yang sebelumnya menyumbangkan buku. Di luar perannya sebagai pendidik, ia juga aktif di kegiatan kepemudaan desa.
Percakapan kami dengannya awalnya tidak jauh berbeda dengan obrolan-obrolan lain. Tentang anak-anak, tentang pendidikan, tentang ruang yang ada di desa. Namun seiring waktu, obrolan itu mulai bergerak ke arah yang lebih serius.
Kami mengetahui bahwa ia memiliki relasi dengan beberapa pihak di wilayah desa, termasuk staf muda di sebuah perusahaan besar dan juga staf kelurahan. Lingkaran kecil mulai terbentuk, meskipun saat itu kami belum benar-benar memahami arahnya.
Beberapa kali, kami melihat mereka bertemu dan berdiskusi di Nukari. Kami hanya menyapa seperlunya. Tidak ikut campur. Tidak banyak bertanya. Rasanya seperti melihat sesuatu yang sedang disiapkan, tapi belum untuk kami ketahui.
Sampai suatu sore, setelah kami selesai berkegiatan di Oemah Seni, guru muda itu datang dan duduk bersama kami. Obrolannya berbeda dari biasanya. Ia mulai berbicara tentang keinginan membuat sebuah kegiatan yang lebih besar di desa.
Saat itu, pertanyaan pertama yang muncul di benak saya dan Karno bukanlah soal nama acara atau kemeriahannya. Kami justru bertanya hal-hal mendasar: siapa saja yang terlibat, bagaimana dengan anggaran, dan sejauh mana kesiapan orang-orang yang akan menjalankannya.
Penjelasannya panjang. Tidak semuanya jelas. Namun ada satu hal yang terasa pasti. Kegiatan ini, apa pun bentuknya nanti, diniatkan untuk desa.
Di titik itulah, tanpa janji apa pun dan tanpa kepastian apa pun, kami sepakat pada satu hal yang sama.
Ini desa kami. Kami lahir dan tumbuh di sini. Jika ada sesuatu yang bisa kami bantu, maka sebisa mungkin akan kami lakukan.
Kami belum menyebutnya festival. Kami belum tahu betapa besar proses yang akan kami jalani setelahnya. Namun sejak percakapan sore itu, arah cerita kami mulai berubah.
Rapat Pertama dan Nama yang Mulai Mengikat
Beberapa hari setelah percakapan sore itu, kami diajak bertemu dengan lingkaran kecil yang sebelumnya hanya kami lihat dari jauh. Pertemuan itu dihadiri oleh guru muda yang sudah kami kenal, dua orang lain yang kemudian kami kenal sebagai Tejo dan Niki, serta Pak Heno.
Pertemuan pertama itu tidak langsung membahas hal teknis. Kami lebih banyak mendengar. Tentang gagasan besar, tentang keinginan membuat sesuatu yang berbeda di desa, dan tentang harapan agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial semata.
Saat itu, belum ada nama yang benar-benar disepakati. Belum ada struktur panitia. Namun dari cara semua orang berbicara, terasa bahwa kegiatan ini perlahan mulai mengambil bentuk. Di titik itulah, untuk pertama kalinya, kata festival mulai disebut dengan lebih serius.
Tugas yang Datang Tanpa Upacara
Di akhir pertemuan, tidak ada penunjukan resmi. Tidak ada surat keputusan. Namun ada satu kesepakatan tidak tertulis: kami diminta membantu menyusun gambaran awal tentang kegiatan ini.
Bukan proposal resmi, belum. Lebih tepat disebut sebagai pra-proposal—sebuah bahan presentasi tentang apa yang mungkin bisa dilakukan, apa yang masuk akal untuk desa kami, dan bagaimana kegiatan ini bisa dijalankan tanpa kehilangan arah.
Saya dan Karno menerima tugas itu tanpa banyak diskusi. Tidak ada tawar-menawar. Kami hanya merasa bahwa inilah bagian yang bisa kami kerjakan.
Sejak saat itu, ritme hari-hari kami berubah. Kami mulai jarang ke Oemah Seni. Waktu kami lebih banyak tersita di depan layar, di meja kerja saya dengan obrolan yang jauh lebih serius.
Hari-Hari Menyusun Gagasan
Kami mulai dari hal paling dasar. Apa yang ingin ditampilkan? Kegiatan apa yang relevan dengan Serangan? Bagaimana agar acara ini tidak terasa dipaksakan, dan tetap berpijak pada identitas desa?
Referensi mulai kami kumpulkan. Contoh proposal festival lain kami pelajari, termasuk festival musik dan kegiatan seni yang sudah lebih dulu berjalan di tempat lain. Dari sana, kami belajar tentang struktur, alur acara, hingga detail-detail kecil yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan.
Proses ini tidak selalu mulus. Banyak ide kami batalkan sendiri. Ada yang terasa terlalu besar, ada yang tidak realistis, ada pula yang kami rasa tidak cocok dengan kondisi desa.
Namun dari proses menyaring itulah, gagasan mulai mengerucut.
Proposal yang Dibangun dari Banyak Kepala
Beberapa kali kami kembali bertemu dengan tim kecil ini. Setiap pertemuan selalu membawa perubahan. Ada masukan, ada koreksi, ada perdebatan kecil yang justru membuat konsep semakin matang.
Karena latar belakang kami berbeda-beda, proposal yang terbentuk pun menjadi cukup lengkap. Ada yang kuat di konsep, ada yang fokus ke teknis, ada yang memikirkan relasi dengan pihak luar, dan ada pula yang melihat dari sisi desa dan adat.
Tanpa kami sadari, dokumen yang awalnya hanya berupa gambaran kasar mulai berubah menjadi proposal utuh. Lengkap dengan alur kegiatan, tujuan, gambaran kebutuhan, dan potensi kerja sama.
Bekerja Tanpa Anggaran
Di tengah kesibukan itu, ada satu kenyataan yang perlahan menjadi jelas: tidak ada anggaran untuk proses ini. Tidak ada dana operasional. Tidak ada biaya kerja.
Semua yang kami lakukan berjalan dengan biaya pribadi. Bensin untuk datang ke rapat, pulsa dan internet untuk komunikasi, kopi untuk menemani begadang—semuanya kami tanggung sendiri.
Tempat rapat memang dipinjamkan. Air minum botol kaca selalu tersedia. Namun di luar itu, tidak ada sokongan materi.
Meski demikian, tidak ada yang benar-benar mengeluh. Mungkin karena sejak awal, kami tidak pernah menganggap ini sebagai pekerjaan berbayar. Kami melihatnya sebagai bagian dari proses yang harus dilewati, jika memang ingin sesuatu ini benar-benar terjadi.
Nama Itu Mulai Menjadi Nyata
Dalam salah satu pertemuan, nama kegiatan ini akhirnya mulai digunakan secara konsisten. Bukan lagi sekadar wacana, bukan lagi sekadar ide. Nama itu mulai tertulis di dokumen, di slide presentasi, dan di percakapan kami.
Sejak saat itu, beban terasa berbeda. Apa yang sebelumnya hanya gagasan, kini perlahan berubah menjadi tanggung jawab.
Kami mulai menyadari bahwa jika proposal ini diterima—oleh kelurahan, oleh desa adat, atau oleh pihak-pihak yang akan kami temui—maka tidak ada jalan untuk setengah-setengah.
Di titik inilah, fase persiapan benar-benar dimulai. Bukan lagi soal ide, tapi soal komitmen.
Krisis Desa dan Tantangan Lokasi
Ketika proses pembuatan proposal mendekati kata final, keadaan desa kami sedang genting. Saat itu tengah berlangsung pergantian kepala adat (bendesa) di Desa Serangan. Pergantian ini bukan sekadar seremonial ia memunculkan gejolak di tengah masyarakat, terutama berkaitan dengan MDA yang mempengaruhi dinamika kepemimpinan di desa kami.
Saya dan Karno bahkan melihat aksi demo yang dilakukan masyarakat desa di kantor MDA, sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan desa kami. Syukur, konflik itu mereda, dan pergantian bendesa berjalan lancar.
Namun setelah persoalan itu selesai, muncul hambatan lain yaitu lokasi acara festival yang sudah kami rencanakan ingin diubah. Tejo memberi tahu bahwa lapangan yang kami ingin gunakan akan digunakan untuk pembangunan tempat kuliner yang belum selesai, dan bahan-bahan bangunan berserakan di sana.
Informasi itu datang terlambat. Kami pun mencari alternatif lain, yaitu sebuah area milik perusahaan besar yang kami sebut “Area 51”. Namun, tempat ini pun bukan solusi instan area tersebut direncanakan untuk pembangunan lain oleh pihak perusahaan, sehingga proses perizinannya tidak mudah.
Akhirnya kami sampai pada titik di mana kami benar-benar mempertanyakan apakah acara ini akan bisa berjalan atau tidak.
Bertemu Lurah dan Menegaskan Lokasi
Setelah meninjau kembali lokasi lapangan yang sebelumnya kami inginkan ini, kami tim kecil ini pun berjumpa dengan ibu lurah untuk membicarakan kemungkinan menyelenggarakan festival di sana, sekaligus membahas hal-hal lain terkait kegiatan ini. Diskusi itu terasa penting karena kami membutuhkan dukungan formal dari pihak desa.
Pada masa itu, Tejo sempat dimarahi oleh atasannya karena dianggap membawa terlalu banyak dinamika dalam pekerjaannya. Namun kami sama sekali tidak menyalahkan pihak manapun, termasuk Tejo. Kami selalu mencari jalan keluar untuk setiap masalah yang kami hadapi.
Pada akhirnya, lapangan yang awalnya direncanakan tetap menjadi tempat acara festival. Itu menjadi titik awal kembali bagi kami untuk fokus menyelesaikan persiapan proposal dan rencana besar lainnya.
Bertemu Bendesa Baru
Mendekati akhir penyusunan proposal, kami juga bertemu dengan bendesa baru yang baru saja dilantik. Kami hadir lengkap yaitu saya, Karno, guru muda, Tejo, Niki, dan Pak Heno. Kami menjabarkan ide dan rencana besar yang tersusun dalam proposal tersebut.
Bendesa yang baru menjabat itu mengajukan berbagai pertanyaan, salah satunya tentang dari mana kami akan mendapatkan dana mengingat skala acara yang terlihat besar. Pertanyaan itu bukan untuk meremehkan, tetapi untuk memastikan bahwa festival ini memiliki pijakan yang realistis di mata adat dan pemerintahan desa.
Atas restu Tuhan dan dukungan berbagai pihak, kami terus berjalan memproses semuanya. Namun realitasnya tetap sama, dana kami masih nol besar.
Merchandise dan Modal Awal
Tanpa dana besar, kami mulai berpikir bagaimana mendapatkan modal awal untuk mencetak proposal berikutnya, alat-alat yang diperlukan, atau hal-hal penting lainnya. Tercetuslah ide membuat merchandise yaitu baju festival yang bisa kami jual sebagai modal awal.
Akhirnya saya, ditemani Karno, merancang beberapa desain baju. Kami kemudian membahasnya bersama tim inti festival, yaitu saya, Karno, guru muda, Tejo, Niki, dan Pak Heno. Setelah melewati beberapa diskusi, desain itu kami setujui dan mulai dicetak.
Karno memiliki relasi lama dengan seorang teman yang memiliki usaha garmen, sebut saja Sato, yang juga memiliki saudara di Serangan. Kami bertemu dengannya dan mulai mendiskusikan produksi baju.
Saat itu kami juga mulai merencanakan strategi penjualan. Setiap anggota tim diberi target jumlah yang berbeda-beda. Sayangnya, penjualan awal tidak berjalan sesuai rencana. Namun kami tetap tidak saling menyalahkan. Pintu keluar yang kami temukan pada saat itu adalah menjualnya ke staf desa dan perangkat kelurahan.
Dengan cara itu, dana untuk awal pembuatan baju mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Modal kecil itu menjadi pegangan awal kami untuk melanjutkan proses berikutnya.
Menjalin Hubungan dengan Komunitas Musik
Saat proses penjualan baju berjalan dan proposal mulai mendekati bentuk final, saya dan Tejo mulai bergerak untuk mencari relasi band yang akan tampil di festival. Band pertama yang kami cari adalah band lokal, kami memiliki teman di Oemah Seni yang berkecimpung di musik.
Bertemulah kami dengan teman kami ini sebut saja namanya Jimi. Kami bertiga duduk dan berbincang. Saat itu, satu hal yang selalu terlintas dalam benak saya "seni itu mahal dan tidak ternilai". Kami tidak membahas kesepakatan resmi tentang keikutsertaan Jimi, dan Jimi pun tidak menyatakan komitmennya secara tegas. Yang kami miliki hanyalah cinta terhadap desa kami dan seni yang tumbuh di dalamnya.
Setelah beberapa hari berlangsung kami (Saya, karno, guru muda, dan tejo) bertemu Bli Febry, Nama-nama band yang akan tampil kemudian berubah sesuai dengan masukan Bli Febry seuai bertemu Bli Febry kemudian kami kembali meeting berenam dan kesepakatan tim inti kami yaitu saya, Karno, guru muda, Tejo, Niki, dan Pak Heno. Keputusan ini lahir dari diskusi panjang dan pertimbangan atas kesesuaian.
Mencari Dukungan Sponsor
Pencarian sponsor menjadi bagian yang sangat menantang. Kami sempat mendapatkan dukungan dana yang sangat kecil, hanya 100–300 ribu rupiah dari beberapa perusahaan di area desa. Selain itu, kami juga melakukan pertemuan dengan sponsor potensial yang lebih besar, termasuk bank negara, yang kami temui di salah satu tempat ngopi ternama global di area desa kami.
Sebuah momen unik pun terjadi saat pembuatan baju merchandise. Ketika desain selesai dan mulai disebarkan oleh tim kami, salah satu perusahaan besar sebut saja Kura-Kura tertarik menanyakan motif pulau yang kami gunakan dalam desain tersebut. Kami bahkan diundang untuk menjelaskan rencana acara dan filosofi di balik desain itu.
Pada pertemuan itu, yang berbicara pertama kali adalah guru muda, lalu Tejo, Karno, dan saya. Respons dari staff perusahaan besar itu penuh dengan pertanyaan dan sejumlah keraguan. Kami sempat berharap dukungan besar akan datang dari mereka, namun ekspektasi itu tidak terwujud. Walaupun demikian, kami tetap berterima kasih atas tempat yang diberikan, minuman botol kaca untuk rapat, dan bentuk bantuan kecil lainnya yang mereka berikan.
Pekerjaan Sansekerta: Web, Tiket, dan Sosial Media
Setelah fase penentuan band dan sponsor kecil, pekerjaan teknis mulai terasa lebih kompleks. Saya yang memiliki latar belakang sebagai programmer mengambil peran dalam apapun yang berbetuk digital dalam acara. Saya membuat sebuah halaman web bernama www.seranganfestival.com yang menjadi pusat informasi lengkap tentang festival kami.
Sistem tiket online, desain gelang, materi promosi, dan elemen digital lainnya mulai dibahas bersama pihak ketiga seperti Snaphoria, penyedia jasa profesional yang membantu kami dalam penyusunan tiket, gelang, dan materi visual lainnya. Beberapa kali kami melakukan meeting internal maupun meeting online dengan mereka.
Selain itu, promosi di media sosial menjadi hal yang sangat penting. Tim kami akhirnya memutuskan bekerjasama dengan Bli Aris untuk mengurus media sosial. Dengan asset desain yang sudah saya buat sebelumnya sedari awal, Bli Aris mulai membuat timeline promosi yang kami butuhkan.
Kami juga sempat melakukan pemasaran offline seperti pemasangan banner di area Kuningan, namun karena keterbatasan tim yang hanya enam orang, hasilnya tidak optimal.
Pertemuan-Pertemuan yang Meneguhkan
Dalam proses ini juga terjadi berbagai momen yang memperkuat kebersamaan kami sebagai tim. Di tengah kesibukan itu, Niki yang sedang hamil besar tetap berjuang bersama kami. Sering kali, dalam suasana bercanda, saya sempat bertanya, “Kamu yakin bisa? Jangan sampai nanti kamu melahirkan di tengah acara ini ya.” Suasana humor itu menjadi pelepas lelah di tengah tekanan kerja yang berat.
Pencarian sponsor dan dukungan finansial terus berjalan. Kami berkeliling ke berbagai perusahaan yang ada di Serangan, mencoba menawarkan peluang kerjasama meskipun sebagian besar permintaan mereka berbeda-beda dan tidak mudah dipenuhi.
Mencari Rekening dan Kesepakatan Besar
Pada satu titik, kami harus mengurus rekening bank untuk menerima dana sponsor. Saya, Karno, Niki, dan Pak Heno ada dalam pengurusan rekening itu. Di bawah sebuah pohon besar di samping halaman bank, kami berbicara panjang lebar tentang seluruh tantangan yang kami hadapi.
Di tengah kelelahan mental dan fisik, hadir kesepakatan yang sangat menentukan Pak Heno sepakat memberikan pinjaman sebesar Rp50.000.000,- dan Karno menambahkan Rp10.000.000,- sebagai dukungan modal awal. Saat itu campur aduk rasanya, lega sekaligus berat, karena kami tahu bahwa tanggung jawab di depan masih jauh lebih besar.
Dan di titik inilah kami benar-benar berdiri di ambang semua kerja keras kami. Masih banyak cerita yang belum sampai di sini: pertemuan dengan perangkat desa, momen-momen putus asa yang justru menguatkan, hingga detail-detail kecil yang menjadi warna cerita kami sebelum panggung benar-benar terpasang.

0 Komentar