Catatan refleksi tentang kedewasaan, profesionalisme, dan tanggung jawab ketika mencoba-coba sudah bukan pilihan.
Waktu Sekolah dan Ruang untuk Salah
Dulu waktu sekolah, saya sering mengerjakan soal ujian dengan cepat, namun hasilnya kadang ngawur. Bukan karena jenius, tetapi karena tidak belajar atau belum benar-benar memahami pelajarannya.
Ada satu hal yang terasa ringan di masa itu. Status kita masih pelajar. Salah hari ini, besok masih bisa diperbaiki. Tidak lulus sekali, masih ada kesempatan mengulang. Nilai jelek belum menentukan arah hidup, karena semuanya masih dianggap sebagai proses belajar.
Masa sekolah mengajarkan satu hal penting: salah itu wajar selama kita mau belajar dan memperbaiki.
Memasuki Dunia Kerja dan Cara Pandang tentang Pengalaman
Setelah masa sekolah terlewati, saya masuk ke dunia kerja dengan pola pikir sederhana. Dicoba dulu saja, salah tidak apa-apa. Bahkan ada fase ketika uang terasa bukan hal utama, yang penting mendapatkan pengalaman.
Pola pikir ini tidak sepenuhnya keliru, terutama saat masih berada di tahap awal. Kita sedang membangun jam terbang, belajar ritme kerja, belajar komunikasi, belajar disiplin, dan belajar menghadapi tekanan.
Pengalaman Mengubah Cara Memahami Profesionalisme
Seiring waktu, setelah berpindah-pindah tempat kerja dan menghadapi banyak situasi, saya mulai benar-benar memahami arti profesional.
Profesional bukan sekadar rapi, sopan, atau terlihat pintar. Profesional adalah kesadaran bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
- Setiap keputusan membawa dampak.
- Tidak semua kesalahan bisa diulang atau diperbaiki.
- Kepercayaan itu mahal dan bisa hilang dengan cepat.
- Waktu, uang, dan harapan orang lain bukan bahan percobaan.
Di dunia kerja, hampir setiap hari terasa seperti ujian yang tidak menyediakan kesempatan mengulang.
Pernikahan, Anak, dan Tanggung Jawab yang Bertambah
Ketika memasuki pernikahan, cara pandang tentang hidup mulai berubah. Hidup tidak lagi hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang pasangan, keluarga, dan keseimbangan.
Saat memiliki anak, tanggung jawab itu bertambah lebih besar. Kita tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga menjadi contoh. Pengalaman yang pernah kita lalui, baik yang benar maupun yang salah, perlahan berubah menjadi pelajaran yang ingin kita wariskan.
Kita ingin anak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang wajar dan realistis, serta mana yang hanya besar di angan-angan.
Usia 35 dan Kesadaran Akan Batas Diri
Di usia 35 tahun ini, garis pemisah itu terasa semakin jelas. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang realistis dan mana yang hanya terdengar besar namun tidak berpijak.
Kehidupan mengajarkan kita banyak hal.
- Tahu posisi yaitu sadar berada di tahap kehidupan yang mana.
- Tahu diri yaitu memahami keterbatasan dan kelebihan sendiri.
- Tahu kemampuan yaitu mengukur tindakan sesuai kapasitas.
- Tahu etika yaitu menjaga sikap dan keputusan, terutama saat menyangkut orang banyak.
- Tahu waktu yaitu memahami kapan belajar, kapan memimpin, dan kapan harus tegas.
Ada masa untuk mencoba dan belajar. Namun ada pula masa ketika hidup tidak lagi layak dijadikan arena eksperimen, terlebih jika keputusan kita berdampak pada banyak orang.
Kesimpulan yang saya rasakan: semakin dewasa, semakin sedikit ruang untuk bertindak sembarangan.
Penutup
Jika masa sekolah memberi ruang untuk mengulang, dunia kerja mengajarkan pentingnya menjaga kepercayaan, dan keluarga mengajarkan kita menjaga masa depan.
Kita bertumbuh bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena belajar membaca konsekuensi dan memilih untuk bertanggung jawab.
Hidup berjalan sekali. Maka menjalaninya dengan sadar, realistis, dan beretika bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

0 Komentar
Hi...
:)
Thank You for your Comment.
I will reply as soon as possible.